Jalan Sunan Drajat No 5 Kec Sumber 45611, email : pdpontrenkabcirebon@kemenag.go.id, FB : Pdpontren Kabcirebon

Tuesday, 22 October 2019

Pesantren Dar Al Quran Meriahkan Apel Hari Santri

Cirebon.pontren.id (22/10/19),
Bertempat di altar pesantren, pelaksanaan apel hari santri dipimpin langsung oleh Gus Rifqil 'Asyik, MA selaku pembina upacara dihadiri Dewan Pengasuh, Dewan pembina, ustadz atau pengurus Pesantren Dar Al Qur’an Desa Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun, menyampaikan pesan moral bahwa santri tidak melulu hanya terlena dengan pada keistimewaan kitab kuning atau ilmu agama semata. Meski tradisi salafiyah tetep harus dipertahankan namun bukan berarti ilmu lain diabaikan, terlebih arus moderenisasi semakin berkembang pesat yang hampir sulit untuk dihentikan. Untk Santri harus dibekali juga dengan ilmu umum agar tidak terkikis oleh perkembangan teknologi yang serba digital.

Menjunjung prinsip hablum minallah dan hablum minannas tetap terjaga, hari santri serentak dilaksanakan diseluruh indonesia, bukan hanya dilingkungan pesantren melainkan dilingkungan instasi pemerintahan, dan lembaga pendidikan lainnya.  Santri memiliki pegangan hidup bahwa menjaga persatuan dan kesatuan NKRI adalah sama pentingnya dengan menjaga menjaga agama. Karena tidak mungkin leluasa menjalankan ajaran agama jika tidak diikuti oleh kondisi negara yang kondusif.

“Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia” merupakan tema utama pada hari santri 2019, tema ini memiliki makna sangat luas, salah satunya santri selalu istiqomah menjalankan dan menyebarkan ilmu agama, mengedepakan tolerasi hidup berkebangsaan dan bernegara. menjadikan diri sebagai tauladan berkepribadian akhlaqul karimah. Santri tidak boleh manja apalagi mudah berputus asa, selalu semangat dalam menjalani kehidupan. Disiplin selama berada di pesantren harus tetap dipertahankan meski sudah berbaur dengan komunitas umum.

Secara khusus beliau menyampaikan pesan agar Santri Pesantren Dar Al Qur’an mampu menjadi penggerak gagasan, penyemangat, pemersatu bagi lingkungan dimanapaun ia berada, baik di lingkungan pendidikan, non pendidikan, perdagangan, pemerintahan, ataupun lainnya. Dihadiri pula oleh Fatayat NU Tegalgubug kecamatan Arjawinangun. 
Dalam rangkaian apel hari santri, pengibaran sang saka merah putih diiringi menyanyikan lagu kebangsaan dan kebanggaan Negara Republik Indonesia “Indonesia Raya”, dilanjutkan dengan lagu Hari Santri, lagu Ya lal Wathon, diiringi musik marchingband oleh santri Pesantren Dar Al Qur’an. Yang sebelumnya dilakukan pembacaan teks UUD 1945, Pembacaan teks Pancasila, Pembacaan Ikrar Santri Nasional diikuti seluruh peserta apel. Suasana gemuruh semangat patriotis santri dalam menyanyikan ketiga lagu tersebut, penuh penghayatan dan penjiwaan makna. Sesudah dan setelah apel hari santri diadakan atraksi seni oleh santri putra dan putri.

Beliau juga, mengutip pesan menteri agama H. Lukman Hakim Saefudin disaat belum menjabat “perayaan Hari Santri bukan sekadar pengakuan terhadap para santri, tapi juga pengingat tujuan negara agar pesantren bertransformasi. Para santri harus semakin kuat bersuara dan aktif memberikan perdamaian. Hari Santri menjadi prasasti untuk menegakkan bernegara sama pentingnya dengan beragama”.

Di akhir sambutannya, beliau menyampain pesan dari Presiden RI Joko Widodo, terkait sembilan alasan pesantren disebut sebagai Laboratorium Perdamaian.
Pertama, tumbuh suburnya kesadaran harmoni beragama dan berbangsa di kalangan pesantren. Ini dibuktikan dengan perjalanan perjuangan kemerdekaan bangsa hingga tercetusnya resolusi jihad dan perang melawan PKI, semua tidak lepas dari peran pesantren. 
kedua, metode mengaji dan mengkaji di pesantren sangat khas.Selain transfer ilmu, pesantren juga mengajarkan keterbukaan kajian dari berbagai kitab, bahkan lintas madzhab. Santri dididik belajar terima perbedaan.
Ketiga, pesantren mengajarkan khidmah dan pengabdian kepada masyarakat dan bangsa. Hubbul wathan minal iman bagian dari nilai yang terus diajarkan di pesantren.
Keempat, pesantren mengajarkan kemandirian, kerjasama dan sikap saling membantu. “Santri terbiasa mandiri, solider, dan suka gotong royong,”
Kelima, pesantren menjadi laboratorium perdamaian, karena di lembaga ini, geralan seni dan sastra tumbuh subur. Hal itu berpengaruh pada prilaku seseorang dalam ekspresi keindahan, harmoni, dan kedamaian. 
Keenam, di pesantren banyak kelompok diskusi, mulai dalam skala kecil  hingga besar, dari tema recehan hingga yang serius. “Sehingga, santri berkarakter terbuka,”.
ketujuh, pesantren merawat khazanah kearifan lokal. Pesantren menjadi ruang kondusif untuk menjaga lokalitas.
Kedelapan, maslahah (kemaslahatan) merupakan pegangan yang tidak bisa ditawar di kalangan pesantren. “Pesantren tidak suka meresahkan masyarakat, malah membina masyarakat,”
terakhir, pesantren menjadi ladang penanaman spiritual. Selain Fiqh, santri dilatih tazkiyatun nufus, pembersihan hati melalui amalan zikir dan puasa. “Santri jauh dari intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.
Diakhir apel, diisi dengan mushafaha (bersalam-salaman) oleh ribuan santri kepada para pengurus pesantren, sebagai salah satu bentuk khidmat dan ta’dzim santri kepada kyai.
(foto : Ust Agus Ali, isi : aziz ahlaf)

No comments:

Post a Comment

Berita Lainnya

Tugas Utama dan Fungsi Seksi PD Pontren

PENDATAAN EMIS ONLINE : KLIK DISINI A.     Tugas Pokok : 1.        Menangani pendirian Ijin Operasional lembaga 2.        Menangani...

Follow by Email